Download dan simak Kajian Tafsir Al-Quran dengan pembahasan “Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 8-9”, yang dibahas dan dikaji oleh Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf, Pengasuh Yayasan Sunniyah Salafiyah Pasuruan Jawa Timur.

Kajian ini beliau sampaikan pada Pengajian Rutin Madros setiap Rabu pagi di Kediaman Habib Jakfar bin Syaikhon Assegaf, belakang Masjid Agung Jamik Al Anwar Kota Pasuruan dengan kitab acuan Tafsir Jalalain.

Simak penjelasan selengkapnya dari tafsir ayat-ayat tersebut di dalam rekaman kajian yang berikut ini.

Di dalam ayat 8-9, Allah Ta’ala berfirman:

2_8

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

Tafsir Jalalain

(Di antara manusia ada orang yang mengatakan, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir.”) yaitu hari kiamat, karena hari itu adalah hari terakhir. (Padahal mereka bukan orang-orang yang beriman). Di sini ditekankan arti kata ‘orang’, jika kata ganti yang disebutkan lafalnya, yakni ‘mereka’.

2_9

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

Tafsir Jalalain

(Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman) yakni dengan berpura-pura beriman dan menyembunyikan kekafiran guna melindungi diri mereka dari hukum-hukum duniawi (padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri) karena bencana tipu daya itu akan kembali menimpa diri mereka sendiri. Di dunia, rahasia mereka akan diketahui juga dengan dibuka Allah kepada Nabi-Nya, sedangkan di akhirat mereka akan menerima hukuman setimpal (tetapi mereka tidak menyadari) dan tidak menginsafi bahwa tipu daya mereka itu menimpa diri mereka sendiri. Mukhada`ah atau tipu-menipu di sini muncul dari satu pihak, jadi bukan berarti berserikat di antara dua belah pihak. Contoh yang lainnya mu`aqabatul lish yang berarti menghukum pencuri. Menyebutkan Allah di sana hanya merupakan salah satu dari gaya bahasa saja. Menurut suatu qiraat tidak tercantum ‘wamaa yasy`uruuna’ tetapi ‘wamaa yakhda`uuna’, artinya ‘tetapi mereka tidak berhasil menipu’.


****

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download kajian ini ke Facebook, Twitter, dan Google+. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain.

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*